Seremonial khusus untuk pemain yang telah mendedikasikan kariernya selama tujuh setengah musim itu rencananya akan dihadiri oleh seluruh skuat utama dan Presiden Barcelona, Josep Maria Bartomeu.

Sejauh ini belum ada pernyataan resmi terkait klub baru yang akan dituju Mascherano, tapi selentingan kabar menyebutkan bahwa pemain kelahiran Argentina, 8 Juni 1983 itu bakal merumput di salah satu klub Liga China, Hebei China Fortune.

Meski memberikan penghormatan khusus dalam bentuk seremonial perpisahan, ada satu hal menyedihkan yang mengiringi kepergian Mascherano dari Camp Nou. Berdasar catatan situs Transfermarkt.com (24/01/18), pemain yang turut berkontribusi atas 18 trofi Barcelona itu dilepas dengan status free agent.

Bisa dikatakan, Barcelona melepas Mascherano tanpa memedulikan masa depan kariernya. Sebuah ironi menyayat hati untuk seorang pemain yang mungkin layak dimasukan dalam salah satu daftar pemain legendaris klub.

Namun begitu, Mascherano terbilang masih beruntung, karena ternyata ada beberapa pemain yang mengalami nasib lebih menyedihkan. Mereka dilepas oleh klub melalui sebuah pesan singkat melalui seluler dan email. Siapa saja mereka?

1. Brade Hangeland

Brade Hangeland | Getty Images

Tahun 2015 menjadi tahun suram bagi mantan kapten Fulham F.C, Brade Hangeland. Ia diputuskan kontrak oleh klub yang telah dibelanya selama 6,5 tahun melalui sebuah pesan singkat yang dikirimkan melalui email pribadi. Padahal, Brade saat itu masih memiliki kontrak berdurasi 1 tahun.

Disinyalir Fulham saat itu dalam kondisi panik, karena harus terdegradasi ke Divisi Championship. Tapi kondisi ini tentu saja tak seharusnya menjadi pembenaran dari cara mereka memperlakukan Brade, karena setidaknya mereka bisa mengomikasikannya secara langsung atau melalui perwakilan sang pemain.

“Pemutusan kontrak terjadi ini tanpa pemberitahuan sebelumya. Saya akan memahami jika mereka ingin memecat saya, tapi tentu lebih baik jika melalui proses komunikasi yang baik. Ini sangat memalukan,” kata Brade kecewa.

“Saya telah mendedikasikan kerja keras dan loyalitas saya selama 6,5 tahun bersama klub. Saya bahkan sempat menyandang ban kapten selama beberapa musim. Saya sangat kecewa, ini adalah perlakuan yang sangat menyedihkan,” pungkasnya.

2. Joe Allen

Joe Allen | Reuters.com

Hal menyakitkan juga dialami oleh gelandang Stoke City, Joe Allen dari mantan klubnya, Liverpool. Kepada Telegraph, Joe pernah mengisahkan bagaimana ia seperti bangun dari mimpi ketika tahu bahwa Liverpool telah melepasnya melalui sebuah pesan singkat (SMS).

Joe mengaku terbengong-bengong ketika salah seorang temannya mengirimkannya ucapan selamat melalui SMS, sebelum beberapa hari kemudian ia mendapat informasi jika dirinya telah resmi dijual ke Stoke City.

“Saya menerima SMS dari seorang teman. Ia mengucapkan selamat untuk transfer yang saya tak paham apa yang sebenarnya sedang terjadi. Anda pun pasti akan kecewa saat tak status Anda dalam sebuah klub dalam ketidakpastian, dipertahankan atau dijual,” kisah Joe.

“Fakta ini memang aneh, meski kerap terjadi. Tapi saya tahu, tak ada hal yang manis dan indah dalam sebuah perpisahan,” tandasnya.

3. Diego Costa

Diego Costa | Skysports.com

Diego Costa merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah Chelsea. Pemain kelahiran Brasil, 7 Oktober 1988 itu ialah salah satu pilar kesuksesan The Blues meraih dua tropi Liga Primer Inggris pada musim 2014/15 dan 2016/17. Namun dedikasinya berakhir dengan cara yang menyedihkan.

Pada bulan Juni 2016, Costa menerima kabar mengejutkan bahwa dirinya tak masuk dalam rencana kerja tim di musim berikutnya, melalui sebuah pesan singkat (SMS) sang pelatih, Antonio Conte.

“Telepon seluler saya berdering menerima SMS dari Conte. Ia menuliskan bahwa saya tak masuk dalam rencana kerjanya musim depan. Menurutnya, perilaku saya tahun ini tak baik,” kata Costa seperti dilaporkan AS (20/06/17).

“Saya telah konsultasikan hal ini ke beberapa pejabat klub, faktanya pelatih memang tak lagi menginginkan saya. Saya akan ada dalam daftar jual di bursa transfer nanti, dan siap bermain untuk klub lain. Pelatih telah mengusir saya dan tak ada pilihan, saya harus pergi,” tuntasnya.

4.5 Tony Hibbert dan Leon Osman

Tony Hibbert dan Leon Osman | Dailymail.co.uk

Apa yang dialami oleh Hibbert dan Leon mungkin pantas untuk disebut sebagai sebuah pengkhiatan yang ironis. Keduanya lahir dan besar sebagai “putra daerah” yang mendedikasikan kariernya untuk Everton sejak kecil, namun loyalitas mereka berakhir secara tragis.

Hibber dan Osman ibarat Steven Gerrad di Liverpool. Statistik menyebutkan bahwa jika digabungkan keduanya telah melakoni penampilan sebanyak 700 caps. Namun jasa mereka dipandang sebelah mata oleh The Toffees.

Keduanya diputuskan kontrak melalui sebuah pesan singkat yang dikirimkan lewat masing-masing keluarga mereka. Pihak klub tak lagi membutuhkan jasa mereka, dan memilih untuk memberitahukannya kepada pihak keluarga untuk diteruskan ke Hibbert dan Osman.