Mengutip laporan Republika.co.id, Muallim memang sudah lama hobi bermain sepakbola, dan hobi tersebut tetap tersalurkan meskipun ia harus menjalani aktivitas sebagai santri di pondok pesantren Annaba. Bahkan selama menjadi santri ia juga kerap memenuhi panggilan bermain dari beberapa klub sepakbola daerah di Indonesia.

Muallim mengatakan bahwa menjadi pesepakbola merupakan sebuah obsesi dan harapan yang sudah lama ia inginkan. Namun ia tak ingin obsesinya itu menghalangi kewajibannya menuntut ilmu agama. “Saya ingin terus belajar, meski sekarang saya sudah tak jadi santri dan mahasiswa lagi,” kata Muallim.

Beruntung, Muallim menemukan lembaga pendidikan yang bisa menyalurkan obsesi dan harapannya tersebut. Pimpinan pesantren Annaba, KH. Syamsul Arifin menuturkan bahwa lembaga yang ia pimpin tidak membatasi santrinya dalam pengembangan minat dan bakat, bahkan mendukungnya jika hal itu bisa mendatangkan sesuatu yang positif.

“Mereka tidak harus menjadi seorang penceramah yang berdiri dari satu mimbar ke mimbar yang lain, tetapi dakwah mereka juga bisa dilakukan pada lingkungan tempat mereka berkarir,” kata Pak Kiai.