Connect with us

Piala Dunia

Racun Mematikan, 4 Negara Termasuk Mantan Juara Siap Boikot Piala Dunia

Insiden keracunan yang dialami mantan agen ganda Rusia, Sergei Skripal berbuntut dengan aksi boikot oleh beberapa negara peserta Piala Dunia 2018.

Redaksi

Published

on

 5

Insiden peracunan yang menimpa mantan agen ganda Rusia, Sergei Skripal dan anaknya, Yulia hingga kini masih berbuntut panjang. Sebagaimana diketahui, Skripal dan Yulia sengaja diracuni dengan menggunakan racun saraf pada 4 Maret 2018 lalu.

Dan kini, banyak pihak tengah mencari tahu siapa dalang di balik peracunan yang sengaja dilakukan tersebut. Seandainya Rusia merupakan pihak yang melakukan aksi tersebut, ajang Piala Dunia 2018 dinilai menjadi terancam.

Pasalnya, empat negara, yaitu Australia, Polandia, Jepang, dan juga Inggris dikatakan siap memboikot perhelatan kompetisi sepakbola akbar itu jika benar-benar Rusia terbukti sebagai sosok di balik insiden yang terjadi tersebut, sebagaimana diberitakan thesun.co.uk (12/03/18).

Lebih lanjut dikatakan, salah seorang sumber yang tak disebutkan namanya mengumbar, para pejabat tengah berbicara dengan Amerika Serikat serta sekutu Eropa terkait kemungkinan tindakan diplomatic, ekonomi, dan militer terhadap Rusia.

Selebrasi Jesse Lingard bersama Timnas Inggris | Chicagotribune.com

Tindakan itu diyakini juga mencakup pencegahan politisi senior dan pejabat untuk hadir, bahkan menarik Skuat Timnas Inggris yang sempat menjadi juara Piala Dunia 1966 dari perhelatan Piala Dunia 2018. Ada pun kemungkinan tim-tim seperti Australia, Jepang, dan Polandia yang bisa diminta untuk memboikot laga tersebut.

“Pemboikotan Piala Dunia merupakan salah satu opsi yang akan dilakukan,” ucap salah seorang sumber.

Sementara itu, Ketua Komite Urusan Luar Negeri Amerika Serikat, Tom Tugendhat juga menilai bahwa aksi boikot sebagai hal yang harus ‘dijaga di atas meja’. Hal itu tak terlepas dari kemungkinan Rusia, sebagai negara penyelenggara Piala Dunia 2018 akan menjadi sosok di balik insiden peracunan itu.

Mantan agen ganda Rusia, Sergei Skripal dan putrinya | independent.co.uk

“Menjadi hal yang sangat luar biasa bahwa sebuah acara olahraga internasional yang dirancang untuk mempromosikan perdamaian diadakan di negara yang membelinya dengan uang korupsi, saat menggunakan pembunuhan sebagai instrumen kebijakan negara,” jelas Tom, seperti yang dilaporkan Daily Mail (12/03/18).

Sedikit informasi, Sergei merupakan mantan intelijen militer Rusia yang pada 2006 lalu pernah dihukum 13 tahun penjara di Rusia. Hukuman itu diberikan usai dituduh melakukan mata-mata untuk Inggris, dilansir dari BBC (12/03/18).

Namun pada 2010, dirinya dibebaskan oleh Rusia sebagai bentuk pertukaran mata-mata yang dilakukan dengan Amerika Serikat. Sesudah itu, ia pun mendapatkan perlindungan di Inggris dan hidup membaur dengan masyarakat dalam delapan tahun terakhir ini.

Oleh karena itu, insiden yang menimpa Sergei dan putrinya saat ini pun memanaskan hubungan kedua negara, yang menjalar hingga luas. (Ika)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry