Penjagaan tersebut dikarenakan sosok De Santis yang memang tidak asing lagi dengan kekerasan antar suporter. Bentrokan sebelum final Coppa Italia itu diawali dengan serangan ke suporter Napoli yang dipimpin oleh De Santis dengan menggunakan bom asap.

Ilustrasi Ultras

Dalam laporan dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh salah satu jurnalis olahraga, Terry Daley yang ditulis di Vice.com pada 2015 lalu, De Santis menembak sebanyak tiga orang termasuk Ciro Esposito. Meski masih menjadi misteri pistol yang digunakan De Santis berasal dari mana, pentolan Roma itu membela dirinya di pengadilan dengan mengatakan dirinya menembakkan pistol karena diserang terlebih dulu.

Alhasil, menurut laporan dari Gazzeta World, usai keluar dari rumah sakit De Santis langsung mendapat penahanan di sebuah lokasi yang dirahasiakan. Hingga pada April 2016 lalu, dirinya kembali menjalani pengadilan untuk membacakan sanksi yang akan diterimanya.

Sumber dari Football-Italia.net, De Santis pun harus menanggung sanksi mendekam di penjara seumur hidupnya. Usai tuntutan dibacakan dan De Santis digiring oleh pihak berwajib, dia berteriak, “Tuntutan ini karena saya sendiri! Bukan karena Anda (keluarga Esposito) yang memberikannya untuk saya! Saya tidak takut mati!.”

Meski salah satu pentolannya itu sudah mendekam di Penjara Rebibbia, Roma, Ultras Roma bukan hanya satu orang. Mereka tetap ada dan dalam laga leg kedua menjamu para fans Liverpool di Olimpico, pihak panpel mungkin harus ekstra kerja keras agar tak ada bentrokan yang sampai mengakibatkan korban jiwa.