Connect with us

Nasional

Soal Pemain Naturalisasi, Ini Kritik Pedas Cucu BJ Habibie yang Berkarier di Italia

 82 views

Keinginan Persatuan Sepakbola Seluruh Indoensia (PSSI) menjawab tuntuttan masyarakat Indonesia agar Timnas kita berprestasi dijawab dengan sejumlah program. Salah satunya kemudian mendatangkan pro kontra di tengah masyarakat yakni program naturalisasi.

Program naturalisasi pertama kali pada periode 2009/10. Ialah striker asal Uruguay, Cristian Gonzales jadi orang asing pertama yang menyandang status WNI dan membela Timnas Indonesia sebagai pemain naturalisasi.

Kekinian program ini seperti berlangsung tak terkontrol. Mereka yang kontra menganggap PSSI hanya ingin meraih prestasi dengan cara instan tanpa mau berproses. Kegelisahan kemudian muncul dengan maraknya pemain naturalisasi di skuat Timnas, bagaimana dengan kabar bakat muda jika PSSI lebih banyak mengedepankkan program naturalisasi.

Kegelisahan ini juga yang dirasa oleh salah satu talenta muda Indonesia, Rafid Habibie. Cucu dari Presiden BJ Habibie yang kini tengah merintis karier di Italia dan membela salah satu klub Serie C, Santarcangelo Calcio.

Rafid menganggap program naturalisasi jangan dijadikan jawaban terkait prestasi Timnas Indonesia yang masih jalan di tempat.

“Kalau buat saya sih boleh naturalisasi karena sekarang kita belum punya sistem untuk pembinaan sepakbola yang kurang baik. Tapi naturalisasi jangan dijadikan jawaban terus menerus,” kata Rafid saat dihubungi Bomber.id (04/04/18).

Kritik pedas pun diutarakan Rafid soal siapa pemain yang bisa dinaturalisasi. Rafid mengatakan bahwa tak bisa pemain baru mencetak gol terus menerus kemudian langsung bisa dinaturalisasi.

“Tak bisa pemain yang baru mencetak gol terus menerus langsung naturaliasi, terus pemain yang main di luar negeri ada darah Indonesia langsung naturalisai. Harus di seleksi ketat dan tidak bisa terlalu banyak juga,” kata Rafid.

Kepada Bomber.id, Rafid juga mengatakan daripada membuang uang cukup banyak untuk naturalisasi ada baiknya investasi jangka panjang untuk bangun fasilitas pembinaan pemain muda. Rafid menyebut memang hal itu akan lama prosesnya.

“Prosesnya memang lama karena memang tidak ada yang instan. Tapi jika ini dilakukan 10-20 tahun yang akan datang, saya yakin Timnas lebih maju. Yakin saya,” kata pemain yang sempat berlatih di Sporting Lisbon tersebut.

Rafid mencontohkan di Vietnam dan Thailand saja misalnya fasilitas pembinaan pemain muda sudah sangat bagus levelnya. “Kita secara pembinaan bisa mencontoh fasilitas dan cara yang mereka punya. Ada berjuta anak Indonesia yang main di Indonesia. Tenang saja tidak akan habis (talenta muda Indonesia),” kata putra dari Rully Habibie ini.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry