Connect with us

Liga Indonesia

Tak Cukupkah Isak Tangis Everton Luiz untuk Usir Rasisme dari Sepakbola?

Belajar dari kasus Everton Luis, rasisme sekecil apapun seharusnya sudah tak ada lagi dalam kamus sepakbola.

 46 views

Kita masih ingat betul bagaimana isakan Everton Luiz saat meninggalkan lapangan kala menjalani derby Belgrade di Liga Serbia. Pemain Partizan Belgrade tersebut disoraki sepanjang 90 menit oleh pendukung Red Star pada laga panas itu.

Tidak hanya sekedar chants tapi para pendukung juga membawa serta spanduk yang bernada rasis pada laga tersebut. Tak ayal, emosi Everton memuncak saat wasit membunyikan peluit akhir untuk kemenangan yang diraih timnya.

Everton Luiz sempat menjadi korban rasisme di Liga Serbia.

Pemain asal Brasil tersebut langsung menghampiri para pendukung lawan sambil mengacungkan jari tengahnya. Everton juga langsung menangis sejadi-jadinya dan harus ditenangkan oleh rekan-rekannya.

“Saya ingin melupakan ini secepat mungkin. Saya suka Serbia dan orang-orang di sini, itu sebabnya saya menangis. Tapi tolong katakan tidak pada rasisme,” kata Everton seperti dikutip dari Sky Sports.

Aksi ini kemudian mendapat sambutan dari berbagai insan sepakbola dunia. Rasisme kemudian menjadi bahaya laten dalam setiap pertandingan di seluruh pertandingan sepakbola dunia.

Keteladanan yang Tidak Seharusnya

Entah apa yang dipikirkan salah satu pemain Persija Jakarta saat asyik melakukan candaan yang diunggah di media sosial. Entah ketelisapan atau memang punya nauri rivalitas yang membekas.

Sebuah video yang diunggah pada akun Instagram Riko Simanjuntak pun langsung viral mendadak. Pasalnya, dalam video berdurasi 60 detik tersebut ada dua kali teriakan salah satu pemain yang melakukan teriakan bernada rasis kepada salah satu kelompok suporter.

Hal ini menjadi antiklimaks bagi energi Macan Kemayoran yang baru saja menggeliat kembali di kompetisi sepakbola nasional. Usai menjadi juara di Piala Presiden 2018 dan tampil menggigit di Piala AFC 2018, Persija memang menjadi idola baru di lingkup sepakbola nasional.

Persija sendiri seperti dikutip dari liputan6.com (28/03/18) akhirnya secara resmi meminta maaf atas insiden tersebut. Sleuruh skuat Persija langsung mengunggah video dan melakukan permohonan maaf pada akun media sosial resmi mereka.

Enyahlah Rasisme dari Sepakbola

Sebelumnya, Viking Persib Club (VPC) yang merasa tersakiti karena ujaran rasisme dari salah satu pemain Persija sempat berang dan ingin menempuh jalur hukum. Rudy Boseng selaku tetua dari VPC seperti dikutip dari vikingpersib.co.id (28/03/18) menyebut bahwa ada efek jera dari segala tindakan rasisme di sepakbola.

“Dia tidak menghargai di saat ketua suporter Persija Bang Ferry Indrasjarif sama komunitas (bobotoh) yang ada di Bandung itu lagi mengkampanyekan perdamaian antar suporter tapi di oknum salah satu pemain itu jadi kesan tidak menghargai,” ujar Rudy.

PERSIJA JUARA PIALA PRESIDEN

Hal ini juga menjadi perhatian dari Joko Driyono selakuPejabat pelaksana Ketua Umum PSSI. Pria yang karib disapa Jokdri ini seperti dikutip dari laman yang sama menyatakan bahwa PSSI akan terus memantau aksi yang dinilainya sebagai pelanggaran besar ini.

“Ini kasus yang serius, ini menjadi telaah di PSSI, khususnya di Liga Indonesia Baru untuk melakukan telaah semua aktivitas pelaku sepakbola. Tidak hanya di lapangan, tapi juga di media termasuk di sosial media,” ujar Jokdri.

Namun hukum tidak melulu harus kepada satu atau dua sosok semata. Ada baiknya seluruh elemen menyatu untuk mengenyahkan rasisme dari sepakbola.

say no to racism.

Apa yang dilakukan oleh pemain Persija hanyalah sebuah gunung es dalam dunia sepakbola nasional. Masih ada bagian gunung yang lebih besar di bagian bawah yang harus juga sadar bahaya rasisme ini.

Pendukung dan seluruh pencinta sepakbola nasional bisa segera menghayati tangisan Everton Luiz yang hancur hatinya hanya karena dukungan semu dan faktor kedaerahan yang membabi buta. Sepakbola adalah masalah hati, rivalitas baiknya dijaga secara sportif dengan satu kata; Say No To Racism!

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry